Wanita hingga Amplang Khas Tanjung Aru

Sabtu,16 Juli 2022 06:40WIB

Haidi memamerkan amplang ikan tenggiri khas Tanjung Aru. (Awal)
Haidi memamerkan amplang ikan tenggiri khas Tanjung Aru. (Awal)

BAGI yang baru melangkahkan kaki di Kabupaten Paser, bakal mendapati banyak pengalaman baru. Cerita berbeda. Ya setiap daerah tentu berbeda. Masing-masing punya cerita sendiri.

___ AWAL // SIMPUL.MEDIA___

LAGI tak pengin menulis yang cukup membuat mumet kepala. Hanya ingin bahas oleh-oleh khas Kabupaten Paser.

Sepekan tiba di wilayah selatan Kaltim ini, awal Oktober 2020. Otak sudah bekerja keras, bukan mikirin kerjaan. Hari ini, esok, lusa mau liput dan nulis apa. Tapi camilan. Senang ngemil.

Langkah. Inilah kesan pertama akan camilan khas Kabupaten Paser. Oleh-oleh khasnya rasanya sulit. Tak banyak tempat yang menjual diseputaran Kecamatan Tanah Grogot.

Malam demi malam, pergi ke Walat atau Siring Kandilo. Tempat ini paling sering ku datangi. Awal dipindahtugaskan di Paser. Selang-seling saja. Di walat, menjual nasi dengan lauk telur, ikan atau ayam. Ada juga mie instan dan gorengan. Setiap malam selalu ramai. Banyak kawula muda, pekerja yang ngekos atau karena lagi malas masak.

Sementara di Siring Kandilo berjejeran PKL. Ada jual sate, berbagai olahan nasi hingga pentol. Di sini sering menyeruput kopi saja. Capuccino. Minuman favorit. Sambil mengabadikan latar belakang Jembatan Kandilo dengan gawai. Malam hari sangat indah.

Tak sekadar menyimpan dalam galeri ponsel. Foto Jembatan Kandilo pada malam hari saya posting di instastory Instagram. Disertai lokasi ‘Kabupaten Paser, Kalimantan Timur’. Tanpa ada tulisan. Caption .

Selang 5 menit dibagikan di Instagram. Tiba-tiba gawai berbunyi. Ting. Penanda ada Direct Message (DM) yang dikirim seseorang. Rupanya dari seorang wanita. Orangnya cantik, seumuran. Pertama kali ketemu 2013 lalu. Sampai situ saja, enggak perlu tahu namanya. Rahasia.

DM itu saya buka, isi pesannya bertuliskan “lagi di Paser ya. Kapan ke Balikpapan, kalau balik aku titip belikan petis udang ya”. Chat petis udang hanya sebagai obrolan pembuka.

Terus berlanjut saling berbalas pesan, emotion, cerita banyak hal. Sampai larut malam. Pukul 23.30 Wita. Rasa ngantuk tidak tertahan lagi. Kalimat ” Good night have a nice dream ,” mengakhiri chatingan malam indah itu.

Petis udang. Permintaan itu sebenarnya tidak terlalu pikirin. Ya, kalau lihat di toko atau mini market saya beli. Kalau enggak ada, jangan dipaksakan. Malas nyari. Pikirku banyak yang jual. Pasti mudah saja menemukan petis udang.

Permintaan petis udang itu tak pernah terwujud. Dia kecewa, tidak. Sampai sekarang masih chatingan saja, terakhir Juni lalu via WhatsApp , saling mengabari. Berbagi cerita. Terakhir ketemu November tahun lalu. Sebelum dipindahtugaskan di Bogor, Jawa Barat.

Oleh-oleh khas Paser sudah tidak terlalu saya pikirin. Kalau pas lihat, singgah beli. Bukan lagi prioritas. Meskipun akhirnya saya tahu belakangan ini ada banyak sekali. Petis udang, amplang, kerupuk, madu dan banyak lagi.

Barulah kembali kepikiran saat mendapatkan penugasan liputan UMKM. Bantu promosikan camilan pelaku UMKM. Jaripun berselancar di atas ponsel pintar. Keyword ‘oleh-oleh’ khas Kabupaten Paser. Mulai mesin pencarian Google hingga Facebook .

Hasil penelusuran banyak artikel oleh-oleh dari Kecamatan Tanjung Harapan. Seperti di Desa Lori ada petis udang. Di Desa Tanjung Aru ada kerupuk udang dan amplang ikan tenggiri. Barulah pada Rabu 13 Juni 2022 saya berangkat ke Desa Tanjung Aru. Menemui pelaku UMKM di sana.

π‘ƒπ‘Ÿπ‘œπ‘ π‘’π‘  π‘π‘’π‘šπ‘π‘’π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘› π‘Žπ‘šπ‘π‘™π‘Žπ‘›π‘” π‘–π‘˜π‘Žπ‘› π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘”π‘–π‘Ÿπ‘– π‘˜β„Žπ‘Žπ‘ 

Salah satu pelaku UMKM di Desa Tanjung Aru, Haidi. Ia menjual amplang ikan tenggiri. Rasanya gurih dan teksturnya renyah. Enak dinikmati kala sedang bersantai atau ngumpul bersama kerabat.

Ia telah membuat amplang sejak 2012 lalu. Haidi sangat menjaga citra rasa, tak sembarang pilih ikan. Pokoknya yang masih segar. “Langsung dari nelayan. Ikannya langsung dibersihkan. Jadi kalau nelayan nggak dapat ikan, ya saya istirahat lagi.Tidak sembarang ikan saya pilih untuk buat amplang,” katanya.

Sekali membuat amplang bisa 2 pikul. Sekitar 120 kilogram. Harga amplangnya dijual Rp 11 ribu untuk 1 ons, sedangkan 1,5 ons dijual Rp 16 ribu. Namanya amplang Al Barokah, sudah mengantongi BPOM P-IRT.

Jualnya selain di rumah, ia juga titipkan di toko Kecamatan Tanah Grogot, Bahkan pelanggannya ada dari Medan. Amplangnya juga kerap dibawa oleh PKK Kabupaten Paser hingga keluar daerah, apalagi saat pameran kuliner.

Meski sudah sangat dikenal. Ia berharap ada pembinaan atau pelatihan dari pemerintah. Seperti bagaimana strategi pemasaran dan lain sebagainya. Di Tanjung Aru ada puluhan pelaku UMKM.

Untuk 6 desa lain di Kecamatan Tanjung Harapan. Nanti ada kolom pemberitaan sendiri. Terbitnya satu per satu. Bisa artikel serupa, UMKM. Dapat juga perihal kebutuhan dasar masyarakat. Infrastruktur, air bersih hingga listrik PLN. (*)

BERITA TERKINI

REKOMENDASI